ASAL USUL ORANG TORAJA

21.36 Posted In , 0 Comments »

          Walaupun sampai saat ini belum ada ahli yang bisa memastikan asal-usul nenek moyang orang Toraja, tapi banyak pihak memperkirakan bahwa nenek moyang orang Toraja berasal dari Indo-Cina. Denga menggunakan berbagai macam perahu, kira-kira 2.500 – 1.500 Sebelum Masehi, sewaktu sebagian pesisir Pulau Sulawesi terendam lautan, mereka datang ke pulau yang bentuknya seperti huruf K.
          Setelah sampai di Pulau Sulawesi, mereka membangun rumah yang mirip dengan perahu, tempat mereka diam bertahun-tahun di lautan. Bentuk rumah tersebut sampai sekarang masih digunakan sebagai rumah orang Toraja yang senantiasa menghadap ke Utara, dari arah mana nenek moyang mereka datang. Hal ini merupakan pedoman instink, sisa, pikiran yang menghubungkan dengan heredity tempat asalnya. Sebagai contoh, ada satu tiang perahu yang paling dominan sebagai tempat mengikat layar bernama SOMPA, sedangkan tiang rumah adat yang paling dominan tampak di depan rumah juga bernama tulak SOMPA. Ini merupakan persamaan nama dan fungsi antara perahu dan rumah orang Toraja.
          Toraja menurut beberapa antropologis Bangsa Belanda, berasal dari kata TORIAJA yang artinya orang dari pegunungan. Pemberian nama ini logis karena rata-rata orang suku Toraja berdiam di daerah pegunungan. Mereka ini sering turun ke daerah pesisir untuk membeli keperluan, seperti garam, ikan dan lain-lain. Orang pesisir memerlukan pula rempah-rempah dari pedalaman. Transaksi barang antara suku pedalaman dengan suku pesisir inilah yang kiranya melahirkan nama TORAJA kepada semua orang dari pedalaman bukan hanya pada satu suku yang sekarang kita kenal sebagai suku Toraja. Ketika orang Belanda datang ke Indonesia, tidak ketinggalan penyelidik antropologi ikut serta sampai ke daerah pedalaman.
          Dalam sebuah buku karangan Sarjana Bangsa Belanda, dikemukakan pemberian nama TORAJA pada orang dari pegunungan. Kalau demikian semua orang yang hidup di daerah pegunungan adalah orang Toriaja atau orang Toraja hal mana tidaklah demikian halnya. Tetapi karena orang Barat lebih dahulu unggul dari bangsa kita dan karangan merekalah yang memenuhi perpustakaan pendidikan dan karena bangsa kita belum ada yang sempat mengadakan riset, maka produk bangsa Barat kita ikuti saja tanpa ada keberanian mengoreksi. Situasi politik pada waktu itu pula tidak menguntungkan. Kita dalam alam penjajahan seperti itu, siapa yang berani mengoreksi “atasan”.
Nama Toraja dalam bahasa Toraja adalah Toraa atau Toraya yang berbeda dengan Toriaja yang sudah dilazimkan dalam bahasa Indonesia dengan nama TORAJA. Dalam dialek setempat ada beberapa yang menyebut dengan TORAA dan ada pula yang menyebutnya TORAYA. TORAA berasal dari kata TO dan RAA. TO artinya orang dan RAA artinya murah. MARAA artinya harganya murah. Dikaraa artinya didapat dengan murah. “Ayam jantan dikaraa” artinya ayam disayang. TORAA artinya orang pemurah hati dan penyayang. TOMAMASA berasal dari kata tomamase yang juga berarti pengasih. Tomamasa merupakan orang Toraja barat yang berada di daerah Mamasa. Saat ini bergabung dalam provinsi Sulawesi Barat. TORAYA terdiri dari kata TO dan RAYA. TO berarti orang, RAYA artinya besar. TORAYA artinya orang terhormat.
TORAA atau TORAYA sama artinya dengan “HOSPITALITY” dalam bahasa Inggris yang artinya pemurah hati sebagaimana halnya dengan orang-orang yang bekerja di hospital yang mendahulukan pengabdian daripada kepentingan pribadi. Sifat hospitality dari orang-orang Toraja adalah mendahulukan pengorbanan daripada kemewahan, seperti halnya dengan orang yang mengabdikan diri pada pemberian pertolongan untuk pasien di rumah sakit. Sifat hospitality dari masyarakat Toraja inilah yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan bangsa Barat yang datang ke daerah Toraja. Seandainya orang Toraja sudah dapat mengetahui huruf yang ditulis bangsa Eropa dari negara Belanda waktu itu dengan memberi nama TORIAJA dengan penjelasan TO artinya orang dan RIAJA dari sebelah gunung, mungkin orang Toraja akan lebih keras menolak kehadiran mereka ke daerah ini.
Secara psikologis, tidak ada seorang Toraja yang senang memakai nama Toriaja yang sama artinya dengan bahasa daerahnya yakni PA’BULU’ atau orang gunung. Suatu kenyataan ialah jauh sebelum orang Barat datang ke Sulawesi, orang Toraja sudah memakai nama TORAA atau TORAYA yang dalam ejaan lama ditulis “TORAJA” dan mereka bangga memakai nama TORAYA serta mempertahankannya dari segala rongrongan luar sepanjang sejarah seperti peristiwa TOPADATINDO dimana perlawanan heroik Toraja bersatu menghancurkan PITU SONGKO’ PALO-PALO atau kira-kira 7 batalion pasukan musuh dari luar daerah Toraja dan mau mengganti ALUKTO DOLO atau keyakinan/kepercayaan orang Toraja dengan kepercayaan yang lain.
Pada umumnya, sumber mata pencaharian orang Toraja ialah bercocok tanam, memelihara binatang ternak seperti ayam, itik, babi, kerbau, ikan mas, dan mengusahakan kerajinan tangan seperti mengukir, menganyam, membuat sepatu, membuat kursi rotan, menenun kain, dan lainnya. Walaupun mata pencaharian orang Toraja adalah bercocok tanam, tapi areal pertaniannya tidak begitu luas dibanding dengan jumlah penduduknya. Dengan demikian, hasil pertanian di daerah ini seperti padi, jagung, ubi-ubian, kacang-kacangan dan kentang serta sayur-sayuran belum bisa membawa Toraja sebagai suatu sentra pertanian di Sulawesi Selatan. Keberadaan masyarakat Toraja yang hidup bertani dan memelihara hewan itu membuat beberapa pemuda-pemudi Toraja yang merasa mampu untuk bersaing orang-orang di kota besar, meninggalkan kampung halamannya. Mereka pergi merantau untuk menghadapi tantangan tersebut. Dan ternyata sebagian besar berhasil sehingga tidak berlebihan jika disebutkan bahwa hampir semua strata pekerjaan di kota-kota besar ada saja orang Toraja yang bercokol di tempat tersebut.

0 komentar: